Pemutaran dan Diskusi Film Pendek Pelajar: Suara Muda dari Layar Labuan Bajo

Bagikan:

Pada Jumat sore, 21 September 2018, suasana di Rumah Kreasi Baku Peduli, Cowang Dereng, Labuan Bajo terasa berbeda. Sejumlah pelajar dari Sekolah Luar Biasa Harapan (SLH) berkumpul bersama komunitas Layar Labuan Bajo untuk menyelenggarakan pemutaran dan diskusi film pendek karya mereka sendiri.

Kegiatan ini menjadi ruang ekspresi dan pembelajaran kreatif bagi para siswa/siswi yang tergabung dalam Komunitas Layar Labuan Bajo, sebuah wadah yang dibentuk untuk mendorong keterlibatan generasi muda dalam dunia perfilman sekaligus mengasah kemampuan berpikir kritis dan ekspresi artistik mereka.

Tiga film pendek ditayangkan dalam kesempatan ini, masing-masing mencerminkan kegelisahan, refleksi budaya, serta nilai-nilai sosial yang lahir dari pengalaman hidup para pembuatnya. Film pertama berjudul Kalang, karya Dewi Siska A.N., menampilkan narasi kultural yang kuat dengan visual khas daerah. Film kedua, Mengemban Tugas Leluhur, karya Galuh Sri Wedari, mengajak penonton menyelami spiritualitas dan tanggung jawab antar generasi. Sementara film ketiga berjudul Tugu Peringatan, garapan Fiki Laelatul Azizah, menggambarkan relasi antara sejarah, tempat, dan memori kolektif masyarakat.

Usai pemutaran, diskusi berlangsung hangat. Para peserta—terdiri dari pelajar, penggiat seni, dan masyarakat umum—berbagi pandangan tentang pesan yang disampaikan dalam film, proses kreatif, serta tantangan yang dihadapi para pelajar selama pembuatan film.

Kegiatan ini tidak dipungut biaya dan terbuka untuk umum, mencerminkan semangat inklusivitas dan kolaborasi yang diusung oleh Forum Film Pelajar Indonesia (FFPJ) dan laman filmpelajar.com sebagai mitra pendukung.

Dengan semangat belajar bersama, berbagi, dan silaturahmi, pemutaran dan diskusi ini menjadi bukti bahwa pelajar juga mampu bersuara melalui medium audio-visual dan turut serta dalam percakapan publik tentang nilai, budaya, dan masa depan.

Berikut foto-foto saat pemutaran dan diskusi film pendek pelajar:

Publikasi Lainnya

Ritual Syukur Masyarakat Adat Wae Sano Usai PT PLN Tak Prioritaskan Proyek Geotermal di Kampung Mereka

Warga adat Wae Sano menggelar ritual syukur di Puncak Golo Lampang, kampung leluhur mereka pada 26 September 2025. (Dokumentasi Sunspirit for Justice and Peace)

Perjalanan Taman Nasional Komodo: Diambil dari Warga Adat, Dikuasai Negara, Diobral ke Korporasi

Adriani Miming Setelah sebelumnya tertunda akibat tekanan dari masyarakat sipil dan peringatan dari UNESCO, Pemerintah Indonesia kembali melanjutkan upaya...

Pernyataan Sikap Masyarakat Adat Poco Leok Saat Upacara Bendera HUT RI ke 80

KOMUNITAS MASYARAKAT ADAT POCOLEOKMinggu, 17 Agustus 2025 Sehubungan dengan rencana perluasan pengembangan panas bumi Ulumbu di wilayah Pocoleok, kami...

Pulau Padar Bukan untuk Dijual! Cabut Konsesi Bisnis, Tegakkan KomitmenKonservasi

Tiga perusahaan yang sudah mengantongi izin di dalam Kawasan Taman Nasional Komodo